Analogi Kimia

Rabu, 19 Mei 2010

Opini masyarakat kita sudah terlanjur memfonis bahwa bahan kimia adalah monster yang menakutkan. Sebenarnya, seperti halnya bakteri, tidak semua bakteri itu merugikan. Ada juga bakteri yang bermanfaat bagi manusia. Demikian pula zat kimia, tidak semua zat kimia bersifat merusak, bahkan sebagian besar tubuh kita adalah zat kimia, sebagian besar aktifitas tubuh kitapun sebenarnya adalah reaksi kimia.

Dalam banyak textbook dituliskan bahwa zat kimia bisa dikelompokkan dalam ‘Kimia Organik’ dan ‘Kimia Anorganik’. Sebagian besar kegiatan tubuh makhluk hidup adalah terdiri dari bermacam-macam jenis reaksi kimia organik. Sedangkan bahan-bahan kimia anorganiklah sebenarnya yang banyak diproduksi secara masal pada industri-industri Kimia. Karena sebagian besar bahan kimia anorganik memang sukar diluruhkan dan menyatu dengan bahan-bahan kimia organik, maka keberadaan bahan kimia hasil sintesa industri inilah yang jika dalam jumlah di atas ambang batasnya berada dalam tubuh manusia dia akan bersifat merusak. Karena bahan-bahan kimia anorganik ini akan bereaksi dengan sejumlah bahan anorganik yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh kita. Atau jika bahan kimia anorganik yang tidak dibutuhkan oleh tubuh ini berada dalam jumlah besar, dia akan menjadi media yang subur untuk tumbuhnya sel-sel tumor dalam tubuh. Zat kimia anorganik inilah yang sering disebut oleh masyarakat awam sebagai ‘Zat Kimia ‘. Suatu difinisi spesifik yang menggantikan difinisi general sebuah difinisi ‘zat kimia’ secara umum. Sangat disayangkan !

Tulisan yang akan saya sampaikan disini sebenarnya bukan untuk membahas mengenai ‘kesalah-kaprahan’ opini yang sudah terlanjur tertanam di masyarakat yang awam mengenai Kimia. Seperti kata pepatah ‘Tak Kenal maka Tak Sayang’, saya akan mencoba mengungkap lebih lanjut pemahaman mengenai ‘Reaksi Kimia’. Reaksi kimia bukan saja sangat dominan secara fungsi dalam segala aktifitas makhluk hidup , tetapi banyak hal-hal yang bersifat filosofi yang juga bisa kita pelajari dan ambil hikmahnya.

Larutan

Salah satu pengertian yang perlu dipahami sebelum membahas sebuah reaksi kimia adalah pemahaman tentang ‘Larutan’. Sebagian besar media dimana suatu reaksi kimia terjadi adalah berupa larutan. Larutan adalah suatu cairan multi komponen atau campuran zat yang terdiri dari zat terdispersi (zat terlarut) yang tersebar di dalam suatu zat pendispersi (pelarut). Biasanya zat terlarut jumlahnya jauh lebih kecil dibandungkan pelarutnya. Contoh-contoh larutan yang sudah banyak kita kenal misalnya, darah, minuman teh, kopi, larutan pembersih kaca, air aki, obat merah, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Jika kita menambahkan suatu zat terlarut sedikit demi sedikit kedalam sebuah zat pelarut, sehingga pada suatu saat akan terjadi bahwa zat terlarut sudah tidak bisa lagi tercampur sempurna dan terbentuklah endapan. Maka pada kondisi ini larutan disebut ‘Larutan Jenuh’. Kejenuhan ini terjadi karena ruang yang menyebabkan keboleh-jadian partikel zat terlarut berada di antara partikel – partikel zat pelarut sudah tidak ada. Akan tetapi jika larutan jenuh ini kemudian kita panaskan, maka ruang-ruang antara partikel zat terlarut akan semakin besar, ruang yang kosong akibat pembesaran ruang antar partikel ini kemudian dapat diisi lagi oleh partikel-partikel zat terlarut yang tadinya mengendap. Inilah yang menyebabkan mengapa gula pasir bisa larut lebih cepat jika kita campurkan ke dalam air yang panas atau sedang mendidih.

Reaksi Kimia

Dalam suatu larutan, partikel-partikel zat terlarut tersebar merata diantara partikel-partikel zat terlarut. Masing-masing partikel akan saling berinterkasi satu sama lain, sehingga akan terjadi 2 macam jenis interaksi, antara lain ‘Interaksi Sesama’ , interaksi antara sesama jenis partikel (zat terlarut v.s zat terlarut dan pelarut v.s pelarut) dan ‘Interaksi Beda Partikel’ , yaitu interaksi antara partikel yang berbeda (pelarut v.s zat terlarut). Interaksi beda partikel inilah yang mempunyai kemungkinan untuk terjadinya sebuah reaksi kimia.

Kondisi dimana gaya interaksi beda partikel jauh lebih besar dari pada sesama partikel inilah yang dikatakan bahwa zat terlarut adalah zat yang ‘mudah larut’. Tetapi jika sebaliknya, maka zat terlarut dikatakan zat yang ’tak mudah larut’.

Pada kondisi jenuh, dimana interaksi antara ‘partikel berbeda’ mencapai frekwensi yang maksimal, maka tumbukan antara kedua jenis partikel semakin sering terjadi. Jika energi yang dihasilkan dari tumbukan-tumbukan itu mencapai tingkat yang lebih besar dari pada energi ikatan yang merangkai atom-atom partikel, maka terjadilah ‘reaksi kimia’.

Pada reaksi kimia, pencampuran tidak hanya terjadi pada level partikel, tetapi sudah melibatkan bagian zat yang berukuran lebih kecil lagi, yaitu pencampuran atom-atom. Atom adalah materi-materi penyusun partikel (molekul) zat. Kombinasi dari susunan atom-atom inilah yang membawa sifat dan karakteristik zat. Seperti halnya huruf-huruf k,a,m,u yang membentuk kata ‘kamu’ akan mempunyai arti yang berbeda jika huruf-huruf itu disusun membentuk kata ‘muka’ atau ‘kaum’. Pada saat atom-atom zat terlarut dan pelarut saling tercampur, maka terbentuklah suatu kombinasi baru, yang secara otomatis juga akan membentuk materi yang mempunyai sifat yang berbeda dari sifat zat-zat terlarut maupun pelarut. Proses inilah yang disebut ‘sintesa kimia’ yang menghasilkan zat baru.

Secara teoritis, dengan mempelajari sifat dari masing-masing zat (ilmu kimia), maka kita bisa membentuk suatu zat baru yang mempunyai semua sifat-sifat yang dibutuhkan manusia dengan mereaksikan suatu zat kimia dengan zat kimia lainnya. Logam pelapis bagian luar pesawat ruang angkasa misalnya, adalah salah satu contoh hasil dari ‘rekayasa kimia’. Bahan tersebut mengkombinasikan sifat kuat logam, dengan material lain yang mempunyai sifat lebih ringan dan tahan panas.

Apakah Zat kimia sejauh ini masih menakutkan bagi anda ? Jika anda masih belum yakin cobalah anda memperhatikan sekeliling kita, bukankah sangat banyak zat kimia yang selama ini justru sangat bersahabat dengan kita ?

Filosofi Reaksi Kimia

Seperti halnya suatu zat yang dicampurkan ke dalam suatu pelarut, maka partikel-partikel zat akan berusaha mempengaruhi partikel-partikel zat pelarut agar mengurangi gaya interaksi antar sesamanya, dan memberikan ruang yang cukup agar zat terlarut bisa berada di antara mereka. Begitu pula ketika kita masuk dalam suatu lingkungan masyarakat tertentu, maka kita harus mampu memberi kesan bahwa kehadiran kita di antara mereka bukanlah suatu ancaman, tetapi buatlah mereka memperoleh kesan bahwa kehadiran kita akan bermanfaat bagi mereka. Karakteristik suatu masyarakat satu dengan lainnya mungkin akan berbeda pada saat mereka kedatangan warga baru. Ada yang mau menerima setiap pendatang dengan tangan terbuka, tetapi banyak pula yang mengunci rapat-rapat pintu rumah mereka pada setiap kedatangan orang asing di lingkungan mereka. Artinya bahwa, sebagai pendatang seharusnya kita bersifat seperti ‘zat yang mudah larut’. Kita harus melepaskan ikatan-ikatan ke-akuan kita, dan mau menerima lingkungan yang baru sebagai media positif untuk bisa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

Kasus seperti halnya tragedi pembantaian warga asal madura oleh warga asli dayak di Kalimantan misalnya, adalah suatau contoh dimana ‘larutan’ masyarakat sudah mengalami titik ‘jenuh’, artinya sudah tidak ada lagi ruang yang cukup disediakan bagi pendatang-pendatang warga madura di sana untuk dapat berbaur secara baik di tengah-tengah masyarakat lokal di sana. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi, jika sebelumnya larutan itu diberikan energi yang cukup untuk menciptakan kondisi yang kondusif, dimana kesempatan berusaha antara masyarakat lokal dan pendatang adalah sama. Tidak ada kesenjangan di antara mereka. Sehingga larutan yang semula akan mencapai titik jenuh bisa kembali berubah.

Jika kita sudah bisa diterima di tengah-tengah masyarakat, maka tingkatkanlah frekwensi interaksi kita dengan masyarakat sekeliling kita. Perbanyak silaturahmi dengan mereka, dan carilah kawan sebanyak-banyaknya, serta tidak menciptakan musuh-musuh baru. Tingkatkanlah rasa keperdulian kita dengan sesama tetangga, sehingga kita dan masyarakat bersama-sama membentuk suatu senyawa masyarakat baru yang lebih baik.

Dalam lingkungan perusahaan atau lingkungan kerja, seorang manager hendaklah mampu bertindak layaknya seorang ‘Chemist’ (ahli kimia) yang dapat meracik sebuah ‘larutan’ team work menjadi sebuah seyawa baru yang memiliki seluruh sifat-sifat positif dari anggotanya, dan mengeliminir semua sifat-sifat negatif menjadi sebuah pengalaman bersama.

Jika saja kita bisa menggunakan nurani dan mau membaca ayat-ayat Tuhan lebih seksama, sesungguhnya masih banyak lagi filosofi rahasia-rahasia alam ciptaan Tuhan yang dapat kita pergunakan sebagai pelajaran. (kimia.net)

0 komentar:

Poskan Komentar

 
 
 

World Cup 2010